Postingan

Menampilkan postingan dengan label Curahan Hati

Logika

Ini tak jauh tentang hati, yg seringkali menolak untuk sepaham dengan logika. Ketika ia tak lagi mengindahkan pepatah mungkin di situ kesalahan awal yang beruntut dan membuntut hingga sekarang. Dua kali keheningan malam membuncah, memecah dan menyakiti hati yg mudah patah. Tak jauh kasus pun dari layar, layar handphone yg kabarkan, yang seolah ia pun tak mau aku tau namun aku menguliknya. Aku selalu ingin tau, tapi ujung2 nya sama, aku menangis karna luka, kecewa, tanpa air mata! Karena ku rasa air mata itu terlalu mulia untuk sekedar menetes demi 4 huruf di satu nama. T***. Desir angin tak lagi ku rasa sejuk, dingin malam tak lagi ku rasa menusuk, keringat malah mengucur mewakili 25° suhu Cibitung malam ini. Bara api ini tak dapat ku padamkan sejenak, ia menelisik ke masa lalu, mengingat, tapi aku malah mengutuk semua itu, ku rasa itu bukan salahku, aku tak memulai ketika itu, akupun sempat menolak, namun tidak tau pasti bagaimana akhirnya aku menjatuhkan hati yg lugu ini pada soso...

Sajak

Hujan Aku selalu rindukan hujan, karena gemuruh suaranya khas nyanyian alam, berpadu riak tenggelamkan diri pada keheningan. Aku selalu rindukan hujan karena hadirnya syarat akan ketenangan, membawa rasa pada sunyi, hilangkan riuh, ramai sekitar, memendam jauh. Ranting Aku mencinta, pada ranting yg tak tumbuh, ia kering dan tak hijaukan daunnya. Aku merindu pada tanah yg sungguh tandus, ia tak suburkan tanaman atau rumput sekalipun. Aku hanya mencinta pada bunga mekar di musim semi, ia indah, sangat indah, tapi hanya waktu itu saja, naas nya, musim semi tiap tahun berulang, namun tidak dengan cinta ini, ia gugur bersama gugurnya bunga, namun ia jatuhkan juga daun, ranting, batang, bahkan memaksa akar untuk tak bertahan. Sungguh. Busuk. Akar itu aku, tetap bertahan mencoba tumbuhkan namun sia-sia karena tak ada tunas dan tandus.

Teruntuk Masa Lalu

Teruntuk Masa Lalu, Dulu aku sulit membiarkanmu pergi, krna ilmu ikhlas tak ku miliki, Menyalahkan waktu, mengutuk cerita, membabi buta mencari akar permasalahan dan mencoba memperbaikinya. Namun apa, tak ada satu pun yg bisa mempersatukan kembali, hati yg hancur, rasa yg juga melebur, dan asa yg telah pergi seiring waktu yg tak bisa mentolelir dan memaafkan kesalahan lagi. Panjang sekali jika hendak ku tulis, perjalanan menuju ikhlas ku melepas apa yg telah ku angankan sejak dahulu, namun waktu membiarkan ku lupa, hingga hanya puing-puing pelajaran berharga yg tersisa, itu tak ku cari namun ku temukan, di sisa-sisa kepingan hati yang tak bisa ku persatukan kembali. Subhanallah, aku temukan permata itu, permata berharga, yg dapat ku ambil dari sisa-sisa rasa sakit, emas yg berkilau indah ku dapati dari puing-puing hancurnya perasaan dan harapan, sebongkah kecil bak berlian yg dapat ku ambil dari relung hati terdalam ketika ku mencari keadilan atas rasa cinta yg tersakiti ini. ...